Random Thoughts

Pacilingan, Sorga Dunia yang Mulai Hilang

Pernahkah kamu membayangkan… bisa buang hajat sambil menikmati sejuknya semilir angin dan pemandangan sekitarmu? Merem-melek menikmati sensasi mules sambil mendengarkan kicau burung yang berloncatan di dahan pohon. Atau menghisap dalam rokok kretekmu dan menghembuskan perlahan ke angkasa sementara kenalpotmu pun menelorkan pupuk organik ke bawah sana. Ya sensasi itu bisa kamu nikmati di tempat bernama pacilingan. Sayangnya, kini eksistensi pacilingan semakin tergerus seiring raibnya empang di sekitar kita.

Lalu apa sebenarnya paciingan? Ya, buat kamu yang bukan orang sunda mungkin akan asing dengan kata pacilingan. Namun buat masyarakat sunda di priangan timur tempat ini pernah menjadi salah satu spot nongkrong favorit. Di sini lah orang-orang menumpahkan unek-unek isi perutnya alias buang hajat bin boker bin beol bin ngising.

Lalu apa keistimewaan pacilingan sehingga menjadi tempat poop yang digandrungi? Tak lain dan tak bukan karena pacilingan biasanya terletak di outdoor. Biasanya di atas empang atau pinggir sungai. Alhasil, pacilingan bisa memberikan pengalaman buang hajat yang lain dari closet konvensional. Karena letaknya di outdoor, sambil beol kamu bisa menikmati lembutnya angin sepoy-sepoy juga menikmati indahnya pemandangan sekitarmu. Apalagi kalau pacilingan nya di atas empang yang banyak ikannya. Asik sekali melihat ikan yang sangat antusias berebutan bom atom yang kamu cemplungkan ke sana.

Sungguh! Pacilingan adalah tempat poop berkonsep alam. Gimana tidak, bom atom yang kita jatuhkan langsung nyemplung ke alam dan raib entah itu dimangsa ikan yang pada gragas atau hanyut bersama aliran angin sungai.

Mungkin cuman satu kelemahan pacilingan. Gak ada air buat cebok. Jadi kalo biar bisa cebok pas masuk pacilingan harus bawa seember air. Sayangnya ga semua pijakan pacilingan bisa buat naroh ember, karena cuman terbuat dari satu atau dua batang kayu/bambu. Alhasil kalo gak bisa bawa ember ke dalam pacilingan, buat cebok kamu harus keluar dulu dari pacilingan dengan berjalan ngangkang mencari sumur atau pancuran dekat situ. Konsekuensinya adalah kamu harus jalan ngangkang dengan cepat karena kalo jalan normal kopet (sisa tokai yang menempel di anus) bisa keburu kering. Selain jalan harus ngangkang, kamu juga harus menutup si otong dan megangin kolor agar gak merosot. Coba bayangin kalo jarak antara pacilingan dan sumur tempat cebok itu 10 km, bisa-bisa kopet udah menyatu dengan daging pantat.

Seiring dengan pesatnya pembangunan, empang-empang pun banyak yang menjelma jadi rumah atau gedung. Dengan menyurutnya jumlah empang, pacilingan pun sekarang berada di ambang kepunahan. Orang-orang sekarang sudah memiliki WC di rumahnya masing-masing.

Meskipun Pacilingan kini telah kalah pamor oleh WC duduk, namun eksotisme buang hajat di sana tak kan terlupakan. Jika kamu pernah beol di pacilingan, berarti kamu pernah merasakan salah satu nikmatnya sorga dunia.

Follow my twitter: @arespendil

 

 

Leave a Reply