Random Thoughts

Terkadang ada perasaan minder saat ketemu orang asing yang cas cis cus ngomong bahasa Indonesia dengan lancar. Bukan sekali dua kali. Pernah suatu kali jalan-jalan ke Hong Kong dan Thailand dan tour guide-nya yang asli orang sana ngomong bahasa Indonesia dengan lancar. Belum lagi temen gue yang bule Belgia dan bahkan kenalan orang Jepang yang baru belajar bahasa Indonesia beberapa bulan aja udah bisa cuap-cuap dengan lancar.

“Gampang banget ya bahasa Indonesia? Sementara gue belajar bahasa mereka susah amat meski udah lama belajar… Hmmm, cemen banget nih bahasa,” Pikiran itulah yang terbersit dalam otak gue dan alhasil bikin minder sama bahasa Indonesia.

Ya mungkin di antara kalian juga pernah berpikir sama, karena menganggap bahasa Indonesia gampang banget dipelajari… kayak gak ada istimewa-istimewa nya gitu deh. Memang sih kalo mau jujur, jika dibandingin bahasa ibu gue aja, yaitu Sunda, bahasa Indonesia terlihat jauh lebih gampang dipelajari. Apalagi dengan bahasa Jawa yang sudah berkembang sedemikian kompleks, bahasa Indonesia keliatan simpel banget. Tapi setelah dipikir-pikir, justru “kecemenan” nya inilah yang membuat bahasa Indonesia begitu istimewa.

Keistimewaan bahasa Indonesia itu baru gue sadari ketika gue menginjakkan kaki ke tanah papua. Kebetulan waktu itu ada shooting iklan di sana. Waktu itu gue iseng minta diajarin beberapa kata dalam bahasa papua sama partner yang asli orang sana. Tapi berbeda dengan respon orang daerah ketika gue mengunjungi Bali, Medan, atau tempat lain di Indonesia, partner gue itu malah gak menganjurkan belajar bahasa-nya. Sontak donk gue merasa heran. Ternyata selidik punya selidik, emang kurang begitu bermanfaat belajar satu bahasa suku di papua. Pasalnya dalam satu kota aja udah banyak bahasa yang berbeda. Jadi kalau belajar salah satu bahasa suku di sana belum tentu bisa dipakai ketika pindah ke tempat lain. Karena di papua dalam hitungan kilometer saja bahasa sukunya sudah lain. Sebuah pemandangan yang sangat kontras bila dibandingkan dengan kondisi di pulau jawa dimana masih menggunakan bahasa yang sama dalam rentang jarak ratusan kilometer.

Di tengah keberagaman bahasa suku yang berbeda diperlukan satu bahasa sama agar bisa berkomunikasi satu sama lain. Di sinilah gue baru menyadari kalau bahasa Indonesia memegang peranan penting. Bahasa Indonesia menjadi pilihan utama untuk berkomunikasi antar suku karena bahasa Indonesia, terutama untuk komunikasi sehari-hari, mudah dipelajari. Lebih dari itu bahasa Indonesia bisa jadi meredam keegoan antar suku yang mungkin saja ada suku yang enggan belajar bahasa suku lainnya. Nah, bahasa Indonesia muncul sebagai sebuah solusi karena dianggap netral.

Fenomena ini serta merta membawa pikiran gur jauh ke tahun 1928. Tentunya sedikit atau banyak kondisi saat itu sama dengan apa yang gue alami. Ada berbagai suku bangsa, dengan bahasa dan ego nya masing-masing mencari solusi untuk menemukan sebuah bahasa yang bisa mempersatukan mereka. Tentunya bahasa ini juga sejatinya bahasa yang simpel dan mudah dipelajari oleh lidah semua suku bangsa. Akhirnya para pemuda kita mengikrarkan bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan.

Bahasa Indonesia sendiri memang berkembang dari bahasa Melayu. Namun bahasa Indonesia kemudian berevolusi dan menjadi bahasa yang berdiri sendiri. Bahasa Indonesia tidak mengenal tenses seperti bahasa Inggris. Bahasa Indonesia tidak mengenal perubahan kata kerja mengikuti subjek seperti dalam bahas Prancis, bahkan di bahasa Sunda pun mengenal perubahan kata kerja mengacu subjek. Bahasa Indonesia tidak mengenal tingkatan bahasa yang kompleks seperti bahasa Jawa. Bahasa Indonesia tidak ada mengenal nada kata seperti dalam bahasa Mandarin, Kanton, bahkan Thailand. Bahkan bahasa Indonesia tidak ada lagu alias lempeng bin netral tidak seperti bahasa daerah yang ada di Nusantara. Bahasa Indonesia itu lugas, sederhana namun efektif!

Kelugasan bahasa Indonesia itulah yang tidak dimiliki oleh bahasa lain di dunia. Terbukti bahasa Indonesia mudah dipelajari tak hanya oleh semua suku bangsa yang Indonesia bahkan semua bangsa yang ada di dunia. Mau orang bule, asia, afrika, arab ataupun yang lainnya dijamin deh dalam waktu singkat sudah bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia (setidaknya untuk komunikasi sehari-hari).

Tak hanya lugas, bahasa Indonesia juga fleksibel dan tidak kaku. Semenjak dari awal kemunculannya bahasa Indonesia diperkaya oleh kata-kata serapan dari berbagai bahasa yang ada seperti arab, jawa, hokkian, sunda, belanda, portugis, inggris sampai ke bahasa persia. Seiring perkembangan waktu, bahasa Indonesia terus berkembang. Sampa-sampai di tingkatan bahasa informal muncul bahasa prokem seperti di tahun 80an, bahasa gaul, bahasa alay hingga bahasa bencong.

Kelugasan dan keluwesan inilah yang sudah sejatinya bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa lingua franca di dunia. Kita patut bersyukur dan bangga karena sebagai langkah awal, bahasa Indonesia sudah ditetapkan sebagai salah satu bahasa resmi di ASEAN. Tak menutup kemungkinan tentunya, suatu hari nanti, bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa resmi untuk komunikasi di tingkat internasional seperti bahasa Inggris, Prancis, Arab ataupun Mandarin. Dan sebagai bangsa Indonesia kita sudah sepatutnya bangga pada pendahulu kita yang telah mencetuskan bahasa Indonesia saat Sumpah Pemuda. Karena tanpa persistiwa Sumpah Pemuda, bisa jadi bahasa Indonesia mungkin tidak akan pernah ada.

Selamat hari Sumpah Pemuda, jayalah selalu bahasa kebanggan kita semua, bahasa Indonesia!

Jakarta, 28 Oktober 2015 – arespendil.com

 

Review and Report

In year 2015, for the first time, Comic Con was held in Jakarta. I was so excited coz I’ve heard and watched this famous event in another countries especially US, on internet. So, with my friends, I attended the Jakarta Comic Con 2015 which celebrated at JIExpo Kemayoran.

Apparently, with the ticket price quite bit expensive, the event was not as big as I thought. And there’s not so many exhibitors as well. But, it’s not bad lah for the first time and I was satisfied enough with cosplayer’s performance and creativity.

And here are my favorite moments, captured by my cam. See you, at the next Jakarta Comic Con.

 

 

Random Thoughts

Cerita ini mungkin dikira sepele. Tapi jika lo pernah jalan-jalan ke luar negeri, terutama ke negeri yang mayoritas penduduknya non muslim, gue jamin lo bakal rindu barang yang satu ini, “Semprotan Cebok,”

Gak boong. Ini berdasarkan pengalaman gue sendiri saat jalan-jalan ke Hong Kong, Thailand bahkan Singapore. Di negeri yang gue samperin itu susah banget dapetin WC yang ada semprotan buat ceboknya. Emang sih semua bisa diakalin dengan bawa tisu basah atau gesek-gesek porslen WC. Tapi yang namanya bo’ol made in Tasikmalaya ternyata selalu ada perasaan kurang mantep kalo cebok pake tisu. Rasa-rasanya kurang afdhol dan selalu ada feeling kalo ada yang nyisa di kenalpot.

Hal lain yang gak didapet kalo cebok pake tisu adalah sensasi semprotannya… kalo disemprot air itu ada sensasi geli-geli sedap gitu deh. Trus juga kalo ada kopet yang membandel gak mau move on, tinggal kencengin semprotannya.. srooottttt!!! langsung pada rontok. Tapi kalo semprotannya kekencengan, bikin perih juga sih.

Hmmm… semoga saja Perdana Mentri Singapore atau Raja Thailand dan negeri non-muslim suatu hari nanti memahami karakter kenalpot bangsa Indonesia yang udah dimanjakan air saat cebok. Sehingga kita sebagai pelancong bisa merasa tentram saat keluar dari WC setelah “berinfak” pupuk organik di negara mereka.

 

Random Thoughts

Jika kamu urang sunda atau pernah tinggal di tatar Sunda pasti pernah denger istilah: HARDOLIN. Sebuah istilah yang biasanya dipake buat nyindir seseorang yang pemalas alias gak ada kerjaan. Secara etimologis istilah HARDOLIN berasal dari singkatan DAHAR (artinya makan), MODOL (artinya Buang Hajat) dan ULIN (artinya main/nongkrong). Nah kalo secara terminologis ialah sifat seseorang yang males ngelakuin apa-apa yang positif misalnya belajar atau kerja dan lebih senang nyantai-nyantai sehingga kasarnya kerjaan dia cuman makan, boker dan nongkrong.

Istilah HARDOLIN pertama kali gue denger ya pas gue masih kecil, sekitar tahun 80an. Perlu kajian antropologis lebih lanjut memang untuk memastikan, siapa tahu istilah ini udah ada sejak jaman Belanda atau bahkan sejak jaman Pithecantropus Erectus. Sering kali kata ini diucapkan oleh orang tua yang ngeliat anaknya males disuruh ini itu, “Dasar sia mah HARDOLIN!” seperti itu kira-kira.

Nah, ternyata istilah HARDOLIN ini juga masih relevan buat jaman sekarang. Jaman dimana gadget gak bisa dipisahkan dari keseharian kita. Apalagi akses internet makin mudah dan murah. Kondisii ini bisa membuat kita tanpa sadar telah menjadi pribadi yang HARDOLIN. Tapi bukan HARDOLIN yang DAHAR, MODOL, ULIN tapi menjadi tipe HARDOLIN yang DAHAR, MODOL, ONLINE.

Terus gimana cirinya orang HARDOLIN di era teknologi komunikasi ini? Nah, kalo keseharian lo males ngapa-ngapain terus dari bangun ampe tidur lagi terus ONLINE pake gadget itu bisa jadi lo udah terserang tabiat HARDOLIN. Hampir setiap saat selalu ONLINE. Mulai dari ngecek e-mail kerjaan, stalking gebetan atau mantan di sosial media hingga beli celana dalam di online store. Lebih parah lagi, saat kita ngumpul bareng temen atau keluarga, fokus kita tetep aja k gadget kita dan beronline ria.

Semoga kita bukan menjadi kaum yang HARDOLIN dan kalaupun ONLINE bisa digunain sesuatu yang lebih positif.

Ya gitu aja deh sekilas obrolan gak jelas tentang HARDOLIN…. Gak usah dipikirin terlalu dalam…

Random Thoughts

Pernahkah kamu membayangkan… bisa buang hajat sambil menikmati sejuknya semilir angin dan pemandangan sekitarmu? Merem-melek menikmati sensasi mules sambil mendengarkan kicau burung yang berloncatan di dahan pohon. Atau menghisap dalam rokok kretekmu dan menghembuskan perlahan ke angkasa sementara kenalpotmu pun menelorkan pupuk organik ke bawah sana. Ya sensasi itu bisa kamu nikmati di tempat bernama pacilingan. Sayangnya, kini eksistensi pacilingan semakin tergerus seiring raibnya empang di sekitar kita.

Lalu apa sebenarnya paciingan? Ya, buat kamu yang bukan orang sunda mungkin akan asing dengan kata pacilingan. Namun buat masyarakat sunda di priangan timur tempat ini pernah menjadi salah satu spot nongkrong favorit. Di sini lah orang-orang menumpahkan unek-unek isi perutnya alias buang hajat bin boker bin beol bin ngising.

Lalu apa keistimewaan pacilingan sehingga menjadi tempat poop yang digandrungi? Tak lain dan tak bukan karena pacilingan biasanya terletak di outdoor. Biasanya di atas empang atau pinggir sungai. Alhasil, pacilingan bisa memberikan pengalaman buang hajat yang lain dari closet konvensional. Karena letaknya di outdoor, sambil beol kamu bisa menikmati lembutnya angin sepoy-sepoy juga menikmati indahnya pemandangan sekitarmu. Apalagi kalau pacilingan nya di atas empang yang banyak ikannya. Asik sekali melihat ikan yang sangat antusias berebutan bom atom yang kamu cemplungkan ke sana.

Sungguh! Pacilingan adalah tempat poop berkonsep alam. Gimana tidak, bom atom yang kita jatuhkan langsung nyemplung ke alam dan raib entah itu dimangsa ikan yang pada gragas atau hanyut bersama aliran angin sungai.

Mungkin cuman satu kelemahan pacilingan. Gak ada air buat cebok. Jadi kalo biar bisa cebok pas masuk pacilingan harus bawa seember air. Sayangnya ga semua pijakan pacilingan bisa buat naroh ember, karena cuman terbuat dari satu atau dua batang kayu/bambu. Alhasil kalo gak bisa bawa ember ke dalam pacilingan, buat cebok kamu harus keluar dulu dari pacilingan dengan berjalan ngangkang mencari sumur atau pancuran dekat situ. Konsekuensinya adalah kamu harus jalan ngangkang dengan cepat karena kalo jalan normal kopet (sisa tokai yang menempel di anus) bisa keburu kering. Selain jalan harus ngangkang, kamu juga harus menutup si otong dan megangin kolor agar gak merosot. Coba bayangin kalo jarak antara pacilingan dan sumur tempat cebok itu 10 km, bisa-bisa kopet udah menyatu dengan daging pantat.

Seiring dengan pesatnya pembangunan, empang-empang pun banyak yang menjelma jadi rumah atau gedung. Dengan menyurutnya jumlah empang, pacilingan pun sekarang berada di ambang kepunahan. Orang-orang sekarang sudah memiliki WC di rumahnya masing-masing.

Meskipun Pacilingan kini telah kalah pamor oleh WC duduk, namun eksotisme buang hajat di sana tak kan terlupakan. Jika kamu pernah beol di pacilingan, berarti kamu pernah merasakan salah satu nikmatnya sorga dunia.

Follow my twitter: @arespendil