Random Thoughts, Review and Report

There is a heaven near near one of most polluted city on earth, Jakarta, where you can enjoy white sand, blue water and amazing sunset. This heaven well known as Harapan Island. An island of Thousand Islands.

It’s only take one hour from Jakarta by speedboat, depart from Ancol. You’ll find amazing view, a still virgin beach, fresh air and, most important, a peaceful atmosphere. It’s a must visit place if you want to take a break and escape from your boring routine in Jakarta.

Oke, while you’re planning to go there, here are the beauty of Harapan Island from my camera. Enjoy!

More Photos: Flickr/500px/Tumblr/DeviantArt/Instagram: arespendil

April 17th-19th, 2015

Follow my twitter: @arespendil –  CONTACT: LINE/WeChat/KakaoTalk: arespendil

Random Thoughts

Buat yang suka wisata kuliner kayaknya perlu nyobain Rijsttafel, acara makan-makan ala jaman kolonial Hindia Belanda. Makanannya sih makanan pribumi biasa cuman cara penyajiannya yang unik dimana para jongos (yang bisa sampe puluhan orang) berduyun-duyun dan berurutan menyuguhkan satu per satu lauk inilah yang bikin Rijsttafel bener-bener berbeda dari wisata kuliner lainnya.

Oke sebelum bercerita banyak tentang serunya Rijsttafel, kita tengok dulu yuk sekilas sejarah Rijsttafel itu sendiri. Kata Rijsttafel berasal dari kata dalam bahasa belanda, rijst yang berarti nasi dan tafel yang berarti meja. Secara harfiah rijsttafel berarti meja nasi, jadi maksutnya nasi beserta lauk pauk dan sayur mayur yang dihidangkan bersamaan dalam satu meja.

Rijsttafel sendiri pada dasarmya sama dengan konsep penyajian makanan lengkap sesuai tata cara perjamuan resmi ala Eropa, yang diawali dengan makanan pembuka (appetizer), lalu makanan utama, dan diakhiri dengan makanan penutup. Cuman uniknya yang dihidangkan bukan masakan Eropa melainkan masakan Indonesia. Nah kenapa bisa gitu ya?

Konon gaya makan ala Rijsttafel ini embrio-nya muncul abad 19. Saat itu pria-pria  belanda yang datang ke koloni Hindia Belanda biasanya tanpa anak dan istri mereka. Alhasil mereka kesusahan untuk bisa makan masakan Eropa karena jarang wanita Eropa yang ada di Hindia Belanda. Gak ada yang masakin masakan Eropa. Kalaupun bisa masak nampaknya susah soalnya langkanya bahan-bahan makanan Eropa karena jarak tempuh yang begitu jauh dari Eropa ke Hindia Belanda dan saat itu belum ada teknologi pengawetan.

Biar mereka bisa bertahan hidup di Hindia Belanda akhirnya pria-pria belanda ini mengawini wanita pribumi yang masa itu dikenal dengan sebutan “Nyai,”  Atas jasa para Nyai-nyai inilah para pria belanda mulai terbiasa memakan masakan pribumi.

Setelah Terusan Suez dibuka tahun 1869 gelombang orang Eropa yang datang ke Hindia Belanda semakin besar. Hal ini membuat suatu perubahan besar bagi kehidupan mereka di negeri jajahan, khususnya dalam hal kebiasaan makan. Mereka pun menjadi lebih sering untuk makan makanan Belanda. Tapi uniknya kebiasaan makan nasi ala rijsttafel tidak mereka hilangkan. Malah orang-orang Belanda mengangkatnya menjadi lebih spesial dalam tradisi makan yang dinamakan mereka rijsttafel itu.

Rijsttafel sering digunakan untuk menjamu tamu-tamu Eropa buat nunjukin keeksotisan dan kekayaan masakan di Hindia Timur. Apalagi dengan cara penyajian lauk pauk yang disajikan berututan dan satu jenis lauk dibawa oleh satu orang jongos. Kata  Jongos sendiri berasal dari bahasa Belanda, yaitu jongen = pemuda, sedangkan oost = timur yang artinya “pemuda timur” pribumi asli. Bayangkan aja jika lauknya ada 40 macam maka bakal ada 40 jongos yang berduyun-duyun membawakan lauk pauk itu mulai dari sayuran, gorengan, sambal hingga kerupuk. Konon, kerupuk pas waktu itu adalah makanan yang mahal lho.

Terus dimana bisa makan ala Rijsttafel?

Katanya sih, pas masa kolonial, sajian rijsttafel paling bergengsi di Hindia Belanda adalah luncheon (makan siang) tiap hari Minggu di Hotel des Indes di Batavia dan Hotel Savoy Homann di Bandung, di mana nasi disajikan bersama lebih dari 60 macam hidangan. Mungkin jaman sekarang ada juga beberapa hotel yang ngadain sajian risttafel. Nah, buat yang ingin nyobain rijsttafel yang gak kalah mewah tapi dengan harga yang bersahabat bisa ikutan makan malam rijsttafel yang sering diadain oleh Komunitas Jelajah Budaya yang bertempat di Museum Bank Mandiri, Jakarta.

Acara Rijsttafel yang diadain oleh teman-teman Komunitas Jelajah Budaya ini keren abis. Suasana jaman kolonial benar-benar pengen dihadirkan di rijsttafel ini. Panitia rijsttafel biasanya mengenakan pakaian ala jaman kolonial. Begitupun dengan settingan meja tempat para peserta makan. Bertempat di sebuah aula Museum Bank Mandiri berhias gambar pemerintahan jaman dulu membuat kesan jaman kolonial terasa begitu kental.

Peserta kemudian dipersilahkan duduk di meja yang memuat kurang lebih 8 orang untuk makan bersama. Sambil menunggu peserta lain duduk di meja yang udah disediakan dan menunggu jongos-jongos yang mempersiapkan masakan, biasanya panitia bercerita tentang sejarah rijsttafel dan sejarah museum Bank Mandiri.

Akhirnya, iring-iringan jongos pun keluar. Meski berpakaian rapi ala pelayan hotel jaman dulu para jongos di acara rijsttafel Komunitas Jelajah Budaya ini membawa lauk pauk tanpa alas kaki. Satu jongos membawa satu macam masakan. Ada yang bawa sate, tempe bacem, sambal, hingga kerupuk.

Lucunya, di rijsttafel Komunitas Jelajah Budaya, iring-iringan jongos ini akan mengitari semua meja makan untuk menentukan meja mana yang akan menjadi meja pertama disuguhin hidangan. Meja pertama yang bakal disodori tergantung kata hati mereka. Wah, bikin makin laper aja nih ulah jongos-jongos ini, apalagi kalo meja kita jadi meja yang terakhir  hihihihi.

Setelah menunggu beberapa saat, para jongos itu datang ke meja makan kita dan secara berurutan menyajikan masakan rijsttafelnya. Tanpa basa-basi para peserta langsung mengambil nasi, sayuran hingga kerupuk untuk memenuhi piring mereka. Dan hap hap hap  nyam nyam nyam sajian rijsttafel pun disantap dengan lahap. Sambil makan biasanya peserta juga dihibur oleh performance live musik bikin rijsttafel serasa makan di hotel atau restoran.

Seru kan makan ala rijsttafel ini? Buat yang lagi nyari acara makan-makan yang berbeda dan eksotis, pastinya acara Rijsttafel ini pantas kalian coba. Selamat makan!

 

Twitter: @arespendil

 

Random Thoughts

Tongsis belakangan ini telah menjadi salah satu aksesoris wajib buat mereka yang suka berfoto narsis. Namun ternyata barang keren ini ga semua orang bisa memilikinya karena alasan harganya yang lumayan cukup mahal.

Berikut beberapa inspirasi tongsis murah tapi keren abis yang bisa kamu bikin sendiri di rumah. Seperti apa? Silahkan lihat aja beberapa tongsis keren hasil kreatifitas beberapa orang berikut ini:

Buat kamu yang suka berpetualang atau pecinta alam, gaya Tongsis yang dari balok kayu ini keren juga buat lo. Selain terlihat GO Green juga membuat kamu keliatan gagah.

Nah, yang ini lain lagi. KULSIS alias Cangkul Narsis pasti cocok buat yang suka bertani atau kerja yang berhubungan dengan percangkulan.

Musim hujan atau suka jalan di bawah terik matahari, YUNGSIS atau Payung Narsis sepertinya cocok sebagai Tongsis kamu

Buat kamu pecinta kebersihan, Tongsis model ini pasti pantas buat kamu…

Punya ide tongsis murah meriah yang lebih gokil? silahkan mention aja @arespendil di twitter 😀

Random Thoughts

Kalo kamu suka Electronic Music Dance (EDM) pastinya tahu minimal pernah denger genre-genre kayak House, Trance, Techno, hingga Dubstep. Tapi tahu gak ada sebuah aliran musik dugem yang katanya asli Indonesia dan udah mulai merambah ke Jepang? Orang sering bilang musik ini dengan sebutan FUNKOT alias Funky Kota, atau juga suka disebut House Kota.

 

Nah video ini adalah salah satu bukti kalo FUNKOT udah merambah Jepang. Seorang DJ Jepang bernama DJ Jet Baron, membawa FUNKOT dari tempat kelahirannya di sekitar Glodok Jakarta ke Negeri Sakura. Lagunya yang berjudul “FUNKOT ANTHEM” yang menceritakan tentang FUNKOT bener-bener ajib! Cekidot aja, Gan!

DJ Jet Baron di Acid Panda Cafe, Jepang

Apa itu Funkot? Banyak yang bilang aliran musik ini dipelopori oleh sebuah Club di Jakarta bernama Millenium. Di awal taun 2000 an para remixer Indonesia mulai bereksperimen dengan beat alhasil jadilah Electro Music Dance yang berbeda dari genre yang lain terutama yang ada di luar Indonesia. Dari sini genre baru ini mulai menyebar dan lambat laun jadi nge-hits di club-club sekitaran Kota.

 

Tapi kenapa aliran ini dinamain Funky Kota atau House Kota, bukan Funky Indonesia atau House Indonesia? Hmmm…. Kasus penamaan bisa jadi hampir mirip dengan kasus asal muasal penamaan buyutnya Funkot itu sendiri yaitu House Music.

Konon kenapa musik ajeb-ajeb dinamain House Music, karena musik kayak gini dulu di awal tahun 80an diperkenalkan dan sering diputer oleh DJ Frankie Knuckles di sebuah nightclub di Chicago bernama The Warehouse. House music sendiri lahir setelah dance music yang nge-hits di tahun 70an hingga 80an awal, yaitu Disco, hancur luluh lantah tak bersisa sehabis sebuah peristiwa bertajuk Disco Demolition Night. Dari situlah orang kemudian menyebut dance music yang berbeda dengan Disco, Electro pop, Italo Disco, Electro Funk tersebut dengan sebutan “House Music”

Setali tiga uang, dengan penamaan Funkot atau House Kota. Ini karena dulu cuman club atau diskotek sekitaran wilayah Kota (dari Harmoni hingga sekitaran Mangga Besar) yang banyak muterin lagu kayak gini. Soalnya club di sekitaran Jakarta Selatan (Kemang, Senayan dan sekitarnya) banyak yang “mengharamkan” musik kayak gini nongol di dance floor mereka.

Sayangnya meski udah merambah Jepang, kepopuleran Funkot di tanah kelahirannya, Jakarta, mulai memudar. Di tahun 2014an udah mulai jarang club-club besar sekitar Kota yang masih memainkan Funkot di dance floor mereka.

Ada yang bilang alasan kenapa Funkot mulai ditinggalkan karena musiknya udah ga jelas. Udah kebanyakan unsur dangdut. Memang sih di tahun 2000an muncul aliran Dangdut Koplo yang dimotori oleh musisi dangdut Pantura Jawa Timur. Dangdut Koplo ini merupakan mutasi dari Musik Dangdut setelah Era Dangdut Campursari yang bertambah kental irama tradisionalnya dan dengan ditambah dengan masuknya Unsur Seni Musik Kendang Kempul yang merupakan Seni Musik dari daerah Banyuwangi Jawa Timur dan irama tradisional lainya seperti Jaranan dan Gamelan.

Dengan kesuksesan Funkot memecagkan dance floor, nampaknya menginspirai musisi dangdut untuk memasukan unsur Funkot ke dangdut tertutama Koplo yang beat nya kenceng kayak Funkot. Di tahun 2006an, SMS, lagu dangdut yang mengadopsi gaya Funkot meledak dan menjadi fenomena. Selepas itu makin banyak lagu-lagu dangdut yang diaransemen dengan gaya Funkot seperti lagu Cinta Satu Malam yang juga jadi top hits. Kayaknya dari lagu SMS lah yang membuat sound khas Funkot merambah jalur mainstream yang tadinya boleh dibilang sebagai music underground yang dimainkan di club-club saja.

Namun kesuksesan lagu SMS atau Cinta Satu Malam membuat Funkot dimata orang awam menjadi identik dengan dangdut. Bahkan mereka menyebut Funkot sebagai musik Pantura.  Selain itu banyaknya remixer yang me-remix lagu-lagu pop Indonesia dan memasukkan unsur dangdut dipercaya beberapa DJ menjadi alasan lain kenapa Funkot mulai kehilangan kharisma dan secara sound dinilai gak asik lagi di mata para DJ dan club-club besar sekitaran Kota. Lambat laun kejayaan Funkot pun mulai memudar di dance floor club.

Meski Funkot udah mulai banyak ditinggalkan, namun genre baru yang boleh dibilang anak dari Funkot muncul. DJ dan anak dugem Kota biasanya nyebutnya dengan Breakbeat. Meski dinamain genre breakbeat tapi gaya musik breakbeat yang satu ini berbeda dengan breakbeat yang ada di luaran sana, makanya ada yang nyebut juga genre ini dengen sebutan Breakbeat Kota. Ada yang bilang Breakbeat Kota adalah Funkot yang dipelanin temponya karena secara pola beat hampir sama cuman temponya lebih pelan.

Seiring dengan memudarnya kharisma Funkot, kini Breakbeat ala Kota mulai mengambil hegemoni Funkot di club-club sekitaran Kota dan beberapa daerah di Indonesia. Dan gak tau akan bertahan sampai kapan….

Ya udah, gitu aja dulu ya cerita tentang FUNKOT nya mendingan sekarang langsung goyang aja. Eh, sebelum goyang ada yang lupa… “DJ matiin lampunya sebentar dooooooooong!!!!”

Tariiiiik mang!

 

Buat yang tahu info lebih dan mau meluruskan sejarah tentang FUNKOT silahkan mention aja gue @arespendil di twitter.

Random Thoughts

Produknya sama-sama kopi. Pesannya sama-sama ingin membangkitkan negeri. Tapi cara komunikasinya berbeda.

Kopi Kapal api mengambil cara serius dan grande, sementara iklan kopi asal Thailand, D7 Coffee, ngambil cara komedi khas iklan-iklan konyol Thailand.  Dan bagi gue, kedua iklan ini emang keren.

Yuk Ngopi!

 

Ares Pendil – Follow On Twitter: @arespendil