Review and Report

Frankly, I am not a big fan of Korean Cuisine. And I had no idea about Korean Food. Soalnya yang gue tau selama ini adalah karedok leunca, gudeg yogya dan panganan ndeso lainnya. So, when I decided to take Korean Street Food Cooking Class, it’s little bit weird even for me.

Tapi emang dasarnya gue itu slalu curious to know something new in my life, alhasil akhirnya gue nekad ambil kursus Korean Street Food yang diadain oleh Sangsang Univ Jakarta. Soalnya harga kursusnya murah pisan coy! Cuman seharga 150rb an buat beberapa masakan Korea kayak kimbab, capjay, bulgogi, topoki dan yang lainnya. Mantaps kan!?

Singkat kata singkat cerita, gue pun hadir di hari pertama kelas masak. And when my cooking tutor told me we’re gonna to make Kimbab, I really don’t know what Kimbab is. It tuns out, Kimbab is Korean version of Sushi. Wow! I was so excited to realize that. Soalnya sebenarnya udah lama banget gue pengen belajar bikin Sushi.

Pertama-tama, gue dan tutor masak nyiapin fillings yang bakal digunain buat bikin kimbab. Hari ini filling yang dipake adalah traditional filling kimbab kayak danmuji, eomuk, crabs stick, telor dadar, wortel dan mentimun. Setelah semua fillings siap, tutor ngajarin cara mengeple-ngeple nasi di atas kim (seaweed paper). Setelah nasi rata baru dah fillings nya ditaruh satu-satu di atas nasi. Abis itu digulung deh. Setelah gulungan kimbab udah jadi, kemudian dipotong-potong. Satu potongnya gedenya biar bisa langsung di-hap!

Finally, my kimbab is ready to serve. And when I tried it, rasanyaaaa…. hmmmm, eduuun lah! Nah, gegara abis belajar bikin kimbab jadi kepengen nih bikin Kimbab dengan filling khas Indonesia, kayak tempe orek, oncom, kacang panjang, atau yang lainnya. Hmmm… pasti bakal interesting pisan lah! Tunggu tanggal mainnya aja yah!

Pengen lebih jelas gimana serunya proses bikin Kimbab? Cekiprot VLOG gue berikut ini:

Random Thoughts

Buat yang suka wisata kuliner kayaknya perlu nyobain Rijsttafel, acara makan-makan ala jaman kolonial Hindia Belanda. Makanannya sih makanan pribumi biasa cuman cara penyajiannya yang unik dimana para jongos (yang bisa sampe puluhan orang) berduyun-duyun dan berurutan menyuguhkan satu per satu lauk inilah yang bikin Rijsttafel bener-bener berbeda dari wisata kuliner lainnya.

Oke sebelum bercerita banyak tentang serunya Rijsttafel, kita tengok dulu yuk sekilas sejarah Rijsttafel itu sendiri. Kata Rijsttafel berasal dari kata dalam bahasa belanda, rijst yang berarti nasi dan tafel yang berarti meja. Secara harfiah rijsttafel berarti meja nasi, jadi maksutnya nasi beserta lauk pauk dan sayur mayur yang dihidangkan bersamaan dalam satu meja.

Rijsttafel sendiri pada dasarmya sama dengan konsep penyajian makanan lengkap sesuai tata cara perjamuan resmi ala Eropa, yang diawali dengan makanan pembuka (appetizer), lalu makanan utama, dan diakhiri dengan makanan penutup. Cuman uniknya yang dihidangkan bukan masakan Eropa melainkan masakan Indonesia. Nah kenapa bisa gitu ya?

Konon gaya makan ala Rijsttafel ini embrio-nya muncul abad 19. Saat itu pria-pria  belanda yang datang ke koloni Hindia Belanda biasanya tanpa anak dan istri mereka. Alhasil mereka kesusahan untuk bisa makan masakan Eropa karena jarang wanita Eropa yang ada di Hindia Belanda. Gak ada yang masakin masakan Eropa. Kalaupun bisa masak nampaknya susah soalnya langkanya bahan-bahan makanan Eropa karena jarak tempuh yang begitu jauh dari Eropa ke Hindia Belanda dan saat itu belum ada teknologi pengawetan.

Biar mereka bisa bertahan hidup di Hindia Belanda akhirnya pria-pria belanda ini mengawini wanita pribumi yang masa itu dikenal dengan sebutan “Nyai,”  Atas jasa para Nyai-nyai inilah para pria belanda mulai terbiasa memakan masakan pribumi.

Setelah Terusan Suez dibuka tahun 1869 gelombang orang Eropa yang datang ke Hindia Belanda semakin besar. Hal ini membuat suatu perubahan besar bagi kehidupan mereka di negeri jajahan, khususnya dalam hal kebiasaan makan. Mereka pun menjadi lebih sering untuk makan makanan Belanda. Tapi uniknya kebiasaan makan nasi ala rijsttafel tidak mereka hilangkan. Malah orang-orang Belanda mengangkatnya menjadi lebih spesial dalam tradisi makan yang dinamakan mereka rijsttafel itu.

Rijsttafel sering digunakan untuk menjamu tamu-tamu Eropa buat nunjukin keeksotisan dan kekayaan masakan di Hindia Timur. Apalagi dengan cara penyajian lauk pauk yang disajikan berututan dan satu jenis lauk dibawa oleh satu orang jongos. Kata  Jongos sendiri berasal dari bahasa Belanda, yaitu jongen = pemuda, sedangkan oost = timur yang artinya “pemuda timur” pribumi asli. Bayangkan aja jika lauknya ada 40 macam maka bakal ada 40 jongos yang berduyun-duyun membawakan lauk pauk itu mulai dari sayuran, gorengan, sambal hingga kerupuk. Konon, kerupuk pas waktu itu adalah makanan yang mahal lho.

Terus dimana bisa makan ala Rijsttafel?

Katanya sih, pas masa kolonial, sajian rijsttafel paling bergengsi di Hindia Belanda adalah luncheon (makan siang) tiap hari Minggu di Hotel des Indes di Batavia dan Hotel Savoy Homann di Bandung, di mana nasi disajikan bersama lebih dari 60 macam hidangan. Mungkin jaman sekarang ada juga beberapa hotel yang ngadain sajian risttafel. Nah, buat yang ingin nyobain rijsttafel yang gak kalah mewah tapi dengan harga yang bersahabat bisa ikutan makan malam rijsttafel yang sering diadain oleh Komunitas Jelajah Budaya yang bertempat di Museum Bank Mandiri, Jakarta.

Acara Rijsttafel yang diadain oleh teman-teman Komunitas Jelajah Budaya ini keren abis. Suasana jaman kolonial benar-benar pengen dihadirkan di rijsttafel ini. Panitia rijsttafel biasanya mengenakan pakaian ala jaman kolonial. Begitupun dengan settingan meja tempat para peserta makan. Bertempat di sebuah aula Museum Bank Mandiri berhias gambar pemerintahan jaman dulu membuat kesan jaman kolonial terasa begitu kental.

Peserta kemudian dipersilahkan duduk di meja yang memuat kurang lebih 8 orang untuk makan bersama. Sambil menunggu peserta lain duduk di meja yang udah disediakan dan menunggu jongos-jongos yang mempersiapkan masakan, biasanya panitia bercerita tentang sejarah rijsttafel dan sejarah museum Bank Mandiri.

Akhirnya, iring-iringan jongos pun keluar. Meski berpakaian rapi ala pelayan hotel jaman dulu para jongos di acara rijsttafel Komunitas Jelajah Budaya ini membawa lauk pauk tanpa alas kaki. Satu jongos membawa satu macam masakan. Ada yang bawa sate, tempe bacem, sambal, hingga kerupuk.

Lucunya, di rijsttafel Komunitas Jelajah Budaya, iring-iringan jongos ini akan mengitari semua meja makan untuk menentukan meja mana yang akan menjadi meja pertama disuguhin hidangan. Meja pertama yang bakal disodori tergantung kata hati mereka. Wah, bikin makin laper aja nih ulah jongos-jongos ini, apalagi kalo meja kita jadi meja yang terakhir  hihihihi.

Setelah menunggu beberapa saat, para jongos itu datang ke meja makan kita dan secara berurutan menyajikan masakan rijsttafelnya. Tanpa basa-basi para peserta langsung mengambil nasi, sayuran hingga kerupuk untuk memenuhi piring mereka. Dan hap hap hap  nyam nyam nyam sajian rijsttafel pun disantap dengan lahap. Sambil makan biasanya peserta juga dihibur oleh performance live musik bikin rijsttafel serasa makan di hotel atau restoran.

Seru kan makan ala rijsttafel ini? Buat yang lagi nyari acara makan-makan yang berbeda dan eksotis, pastinya acara Rijsttafel ini pantas kalian coba. Selamat makan!

 

Twitter: @arespendil